Minggu, 12 Februari 2017 | 8:01:56 wib

DIBAWAH POHON RINDANG

Bagi saya minggu pagi adalah momen yang tepat untuk berleha-leha dirumah. Dinginnya udara sejak tadi malam merayu saya untuk tidur lebih lama. Pukul tujuh pagi saya terbangun karena suara telpon. Ternyata Saya lupa telah membuat janji. Hari ini Saya dan Adli berencana untuk jalan-jalan pagi. “Oke-oke dli gw mandi”. Udara dan cuaca pagi kembali merayu saya untuk tetap terlelap dan saya pun melanjutkan tidur. Telepon kembali lagi berdering pukul delapan, Jal udah siap belum lo? tanya adli kepada saya. “Jal mobil gw mogok nih” Hah apaan dli, iya mobil gw mogok. Rasa ngantuk di diri saya sekejap hilang mendengar kabar itu. Saya pun bergegas mandi. Belum lama saya selesai mandi, “ De ada temennya diluar”. Saya pun bergegas menyiapkan kamera, dan menuju keluar.

Kebetulan Adli baru saja membeli mobil baru, Jimny tahun 1982. Saya melihat ada semangat baru didirinya, disela-sela ujian Negara Dokter yang sebentar lagi akan dia hadapi. Sudah lama dia mengidamkan memiliki Jimny. “ Gw pengen banget Jal Jimny, kayanya laki banget gitu kalo gw bawa Jimny. Terjawablah doanya di awal Februari lalu. Sebagai seorang teman, saya turut senang. Untuk itu pagi ini saya ingin menikmati pagi dan mencoba menuliskannya disini.

 

“Jadi ke Alam Sutra dli?” tanya saya kepada Adli. “Engga Jal, gw ga berani jauh-jauh gw takut mogok Tol”. PR kan kalo mogok di Tol. Berhubung kami tinggal di Bekasi, kami tidak mau ambil resiko berpergian jauh dengan kondisi mobil yang kurang sehat. Saya menyarankan untuk ngopi di Kemang dan Adli pun menjawab ayo. Ditengah perjalanan tiba-tiba saya ingat. “Dli kenapa kita ga ngopi di bawah pinus Cibubur aja”. Nuansanya pas lagi bisa ngetes for wheel drive lo. Adli pun menjawab, bener juga ya. Oke kita kesana.

Hutan Pinus Buperta bukan tempat yang asing untuk kami. Terkadang spot andalan ini kami pilih untuk mengelabui teman-teman di sosial media. Banyak yang mengira spot ini di Bandung atau di Gunung Pancar. Lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah kami. Beberapa teman saya menyebut hutan pinus ini “Secret Zoo”.

Perjalanan diwarnai awan kelabu dan rintikan hujan. Setibanya di Buperta Cibubur kami mencoba mengingat akses menuju Hutan Pinus yang ingin kami tuju. Seingat saya, terakhir kali kami kesini menggunakan sepeda motor, dengan akses yang berbeda. Setelah meraba-raba jalan, akhirnya kami menemukan akses menuju hutan pinus.

Rimbunnya pohon dan genangan air menyambut kami. Ini pengalaman pertama kami menerobos hutan ini menggunakan Jeep. Perlahan kami memasuki kawasan hutan ini, hujan pun kembali turun membuat suasana semakin gelap. Setibanya di Hutan Pinus, kami tidak melihat penjual kopi yang biasa berjualan. Kami hanya melihat kursi dan meja yang masih terbaring di balik pohon. “Yah ga jualan dli tukang kopinya”. Yaudah dli cari tukang makan dulu di depan belum sarapan gw, dan kami kembali ke Buperta.

 

Adli mencoba menghubungi Ican. Sahabat kami yang rumahnya tidak jauh dari lokasi kami berada. “Can dimana?” Gw sama Rizal lagi di Buperta nih, mau ngopi dibawah Pohon. Kebetulan Ican sedang dirumah dan tidak ada kegiatan. “Okedeh dli gw nyusul kesana”. Hujan pun kembali turun, dibawah tenda kami memesan ketoprak untuk menghangatkan badan.

Setengah jam berlalu Ican pun tiba, dan kami kembali memasuki hutan pinus yang mulai bersahabat. Setibanya didalam kami mencoba menikmati suasana. Obrolan demi obrolan pun dimulai, belum lama kami menikmati suana hujan pun kembali turun. Kebetulan penjual kopi mulai membuka lapaknya dan menyiapkan tenda. “Tukang kopinya udah ada tuh, neduh disana Can”. Adli pun bergegas memindahkan mobil dekat dengan tenda kami berteduh.

“Bu kopi item tiga”, kami pun memesannya. Ibu kopi tersebut mencoba melayani kami dengan ramah sambil merapihkan barang jualannya. Tidak lama kopi hitam yang kami pesan pun tiba. Kopi hitam sederhana dengan cangkir gelas aqua. “Sama sukronya bu lima” Ican membelinya sebagai pelengkap diskusi kami.

 

Kami pun melanjutkan diskusi kami. Seperti umumnya pertemanan sejak sma, banyak topik pembicaraan yang bisa kami cerna. Mulai dari masa depan, kesiapan mempersiapkan masa depan, politik, dan juga pencapaian. Inilah minggu pagi yang selalu saya rindukan. Berdiskusi, bertukar pikiran, sejenak melupakan kepenatan dan pekerjaan. “Bu pesen kopi item lagi”, Ican pun kembali memesan kopi hitam. Tak terasa sudah tiga jam kami berada disini.

Saya sangat menikmati suasana disini. Mungkin ini yang membenarkan mindset saya “semua tempat mah sama, yang ngebedain adalah sama siapa lo di tempat itu”. Dengan siapa kamu berada merubah cara anda untuk menikmati suasana. Ngopi ga selalu harus di cafe, Ngopi ga selalu harus di tempat mahal. Dengan sedikit mengubah perspektif ini membuat saya terinspirasi untuk menikmati minggu pagi di lokasi berbeda.

Karena hari sudah semakin sore dan Adli harus menghadiri sebuah acara kami memutuskan untuk pulang. Minggu pagi dari perpektif berbeda. Ini cerita saya, bagaimana minggu pagi kamu?

 

Hutan Pinus Bumi Perkemahan Cibubur
Minggu, 12 Febuari 2017

Comments