Minggu, 5 Februari 2017 | 4:06:17 wib

BUKIT KAPUR AROSBAYA

Perjalanan ini dimulai ketika saya berada di Surabaya. Berbekal kontak Mas Nengah rider Gojek yang saya tumpangi ketika saya menuju Musium Tugu Pahlawan Surabaya.


Siang itu ketika merasa puas berkeliling Musium Tugu Pahlawan dan berjalan di pedestrian Alun-alun Kota Surabaya saya berencana untuk mengeksplorasi hal-hal yang berbeda di kota ini. Saya masih sangat ingat ketika saya mengakhiri perjalanan dengan rider Gojek dia menawarkan saya untuk mengunakan jasanya apabila saya ingin berkunjng ke tempat lain. Kebetulan saya ingin merasakan sesuatu yang berbeda, suasana tepi laut, hamparan tanah yang luas dan suatu tempat yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya.

Saya menghubungi beliau yang kebetulan berada di lokasi yang tidak jauh dari tempat saya berada. Beberapa saat kemudian beliau datang menghampiri saya. “Mau kemana mas?”.

Saya pun bingung jika ditanya tujuan, dan saya merekomendasikan untuk kita makan siang terlebih dahulu. Kebetulan badan saya mulai lemas karena daripagi belum bertemu dengan nasi. Setelah makan siang dan saya mencoba rekomendasi tempat yang saya cari di Google. Jatuhlah tujuan saya ke Pulau Madura.

Tepat jam 12 siang saya memulai perjalanan. Melintasi jalan Kota Surabaya menuju ke arah Jalan Kedung Cowek akses penghubung Kota Surabaya dengan Jembatan Suramadu. Dari kejauhan mulai terlihat jembatan megah yang membentang semakin lama semakin besar terlihat. Gerbang jembatan pun mulai saya masuki. Saya merasakan atmosfir yang berbeda, jembatan megah dengan pemandangan laut yang luas perlahan Kota Surabaya terlihat di tepi laut. Sayangnya karena saya menggunakan sepeda motor, tidak memungkinkan untuk berhenti di tengah jembatan.

Setelah tiba di Dataran Madura saya meminta untuk berhenti di tepi jembatan dan mencoba mencari spot yang bagus untuk foto, namun sayangnya akses itu ditutup karena sedang dalam proses pembangunan. Saya berinisiatif untuk mencari objek menarik yang ada di pulai ini. Bukit Kapur Arosbaya saya pilih karena lokasinya hanya berjarak 20 KM dari jembatan ini. Mulailah saya menggunakan Waze untuk menuju ke lokasi.

Sejauh mata memandang, perjalanan menuju Bukit Kapur Arosbaya terdiri dari hamparan sawah yang luas dan tanah kapur yang gersang. Waze mengarahkan saya melewati desa-desa yang tidak banyak pemukiman penduduk. Saya sedikit ragu apakah ini benar akses menuju Bukit Kapur Arosbaya, dan keraguan pun muncul dari Mas Nengah yang mulai bertanya “mas ini benar ya jalurnya”. Satu jam perjalan akhirnya tanda-tanda Objek Wisata Bukit Kapur Arosbaya pun muncul.
Perjalanan yang cukup saya keluhkan terbayar dengan pemandangan bukit kapur yang mulai terlihat. Saya cukup takjub dengan pemandangan yang ada didepan mata. Dengan membayar lima ribu rupiah saya pun memasuki bukit kapur ini.

 

Saya disuguhkan dengan pemandangan bukit dengan nuansa putih kecoklatan. Membuat saya penasaran pemandangan apalagi yang berada di dalam. Terdapat beberapa bukit dengan pintu masuk dinding kapur.

 

 

 

Didalamnya terdapat goa-goa yang memiliki tekstur pahatan. Saya semakin penasaran pemandangan apalagi yang ada didalamnya.

 

 

Bukit dengan jalan setapak, membuat saya semakin penasaran apalagi pemandangan yang disuguhkan didalamnya.

 

 

 

Sampai akhirnya saya bertemu dengan seseorang yang sedang memahat kapur didalam bukit ini. Saya mengamati apa yang sedang beliau lakukan. Terdapat banyak bongkahan batu kapur yang sudah terbentuk balok. Akhirnya saya mencoba untuk berkenalan dengan beliau.

 

 

 

Namanya Pak Mansyur, beliau adalah suku asli Madura yang berprofesi pemahat batu kapur. Dengan alat yang masih sangat sederhana, dalam sehari beliau mampu menghasilkan empat puluh bongkahan batu kapur. Bukit kapur ini dikelola secara tradisional turun menurun dari tahun 1982. Beliau generasi ketiga setalah Kakenya yang menjadikan bukit kapur ini sebagai tambang batu kapur. Dulunya bukit ini rata seperti umumnya bukit kapur. Hal ini yang membuat bukit ini indah dan unik.

 

 

 

 

Peran sosial media dan liputan acara tv membuat Gunung Kapur ini menjadi objek wisata yang kian ramai dikunjungi. Hal ini berdampak pada pemasukan pendapatan daerah sekitar Arosbaya. Masyarakat merasa bersyukur kian banyaknya peminat yang berkunjung ke Bukit Kapur Arosbaya ini.

Karena hari sudah mulai sore, pengelola Objek Wisata Arosbaya menyarankan saya untuk kembali tidak melebihi matahari tenggelam. Saran itupun yang membuat saya untuk kembali ke Surabaya.

Sebeneranya masih banyak hal-hal menarik yang ingin saya kunjungi di Madura, namun banyak orang menyarankan untuk tidak melebihi waktu matahari tenggelam karena daerahnya sepi dan rawan. Semoga kelak saya bisa kembali ke dataran ini dan mendapatkan cerita unik yang bisa saya bagikan.



Sabtu, 31 Desember 2016.

Comments